Senin, 14 Juni 2010

Artikel Pribadi : NEW INFORMATION ECONOMIC

Manfaat dari NIE
Mendapatkan Kekuatan Informasi
”Knowledge is Power”. Pepatah ini sudah sering kita dengar. Tapi, Bill Gates ternyata tidak sependapat. Menurut Bill Gates dalam bukunya Business @ the Speed of Thought, informasi yang di-share-lah yang memiliki kekuatan dahsyat, karena informasi ini telah berubah dari informasi pasif (yang hanya berada di kepala masing-masing orang, ataupun yang tersimpan dalam file) menjadi informasi aktif, yaitu informasi yang bisa memberi nilai tambah bagi kegiatan bisnis perusahaan. Lalu, bagaimana memanfaatkan kekuatan pengetahuan atau informasi yang ada untuk mendukung kesuksesan kita? Mungkin yang berikut perlu Anda simak.

Perubahan cepat di dunia bisnis mendorong perusahaan mengandalkan kekuatan informasi sebagai basis untuk berbisnis. Informasi yang didukung teknologi internet telah merevolusi wajah perekonomian dunia untuk berubah dari ekonomi lama (old economy) ke ekonomi baru (new economy). Ekonomi baru melengkapi kegiatan bisnis dunia nyata dengan kekuatan informasi. Untuk memanfaatkan informasi dengan optimal, dunia bisnis perlu menerapkan strategi pengelolaan informasi dan pengetahuan dengan optimal untuk memperbaiki kualitas keputusan, proses, dan produk ataupun jasa yang dihasilkan, serta hubungan yang harmonis dengan pelanggan.

Mengubah Kabar Buruk Menjadi Kabar Baik
Teknologi informasi telah menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan bisnis dunia, termasuk di Indonesia. Dengan mengoptimalkan manfaat dari informasi yang tepat, perusahaan dapat memangkas biaya yang besarnya sangat signifikan. Namun, pemanfaatan informasi memiliki dua sisi: jika perusahaan tidak bisa menggunakannya dengan tepat, maka informasi akan membawa pada kematian, sebaliknya jika perusahaan dapat memanfaatkannya dengan optimal, maka keuntunganlah yang akan didapat.
Sebagai contoh adalah PT Telkom dan PT Pos Indonesia. Revolusi informasi yang masuk bersama dengan teknologi Internet, pada awalnya terlihat seperti membawa lonceng kematian bagi dua perusahaan BUMN di Indonesia ini, karena Internet dianggap akan memakan pasar PT Telkom di industri komunikasi suara dan PT Pos Indonesia di komunikasi melalui pos. Tetapi, karena kedua perusahaan ini berhasil mengelola dan memanfaatkan informasi disertai inovasi di bidang teknologi komunikasi tersebut dengan baik, datangnya perubahan tidak mematikan bisnis kedua perusahaan ini. Mereka merangkul kekuatan informasi dan teknologi Internet tersebut dengan secara signifikan melakukan perubahan-perubahan fisik yang diperlukan dalam memperbaharui produk dan jasa yang mereka tawarkan.
PT Telkom memperkenalkan Telkomnet Instan sebagai jasa layanan internet bagi pengguna telepon tanpa repot (tanpa harus mendaftar dengan prosedur administrasi yang rumit sebagai pelanggan sebuah internet provider), bisa langsung diakses seperti menelepon biasa. Jasa lainnya adalah penyediaan jaringan komunikasi broadband untuk kawasan tertentu yang bisa digunakan untuk TV kabel atau jaringan internet dengan kabel (bukan dial up). Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi ini, PT Telkom juga menawarkan jasa komunikasi bergerak dengan telepon genggam yang menawarkan pulsa jauh lebih murah dari perusahaan sejenis di industri komunikasi bergerak. Sedangkan PT Pos Indonesia menawarkan produk-produk baru seperti wasantara-net (jasa layanan internet provider), pengiriman kartu pos digital, serta pengiriman surat dan barang yang ditunjang dengan jaringan elektronik yang telah dibangun oleh PT Pos untuk menyosong masa depan menjadi perusahaan kelas dunia.

Mengubah Informasi Pasif Menjadi Informasi Aktif
Informasi, ditunjang dengan teknologi komunikasi yang berkembang cepat hanyalah merupakan alat. Alat ini dikendalikan oleh manusia. Dengan demikian, pelaku bisnis perlu mengelola informasi yang dapat diaksesnya sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan bersama oleh orang-orang yang tepat untuk mendapatkan hasil yang optimal. Di sini, peran knowledge management (KM) menjadi penting. Dengan KM yang tepat, yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan, informasi penting dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh pimpinan di kantor pusat, tetapi juga oleh mereka yang berada di cabang-cabang dan perwakilan perusahaan di seluruh dunia pada waktu yang bersamaan. Jadi, knowledge management dapat mengubah informasi pasif yang hanya tersimpan dalam kepala beberapa orang, atau dalam bentuk cetak, menjadi informasi aktif, yaitu informasi yang di-share sehingga dapat dimanfaatkan secara aktif untuk mengambil keputusan, melakukan inovasi dalam produk dan proses, mendukung pembelajaran yang berkelanjutan, dan meningkatkan kualitas dari SDM perusahaan.
Sebagai contoh: Perusahaan Nabisco, memanfaatkan information sharing untuk sarana penyempurnaan kualitas produk dan layanan kepada pelanggan. Melalui Journey, sistem yang khusus diciptakan untuk mengakomodasi kegiatan pengelolaan informasi (knowledge management), seorang manager produk di Malaysia yang ingin mempromosikan peluncuran makanan ringan baru, bisa mengakses Journey untuk melihat informasi tentang kegiatan serupa (promosi peluncuran produk baru) yang pernah ataupun sedang dilakukan di negara lain. Melalui sistem ini, manajer tersebut juga bisa melontarkan pertanyaan di forum diskusi on-line, untuk mendapatkan masukan (ide, usulan strategi atau solusi) dari rekan-rekan sesama manajer produk atau direktur pemasaran di berbagai tempat lain.
Upaya pengelolaan informasi juga dilakukan oleh Yamanauchi, perusahaan farmasi terbesar ketiga di Jepang untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di perusahaan tersebut. Masalah-masalah yang terjadi bisa dengan lebih cepat ditangani melalui forum diskusi on-line antarpimpinan di berbagai divisi dan berbagai daerah. Keputusan yang menyangkut penerapan berbagai terobosan baru juga bisa segera disosialisasikan untuk mendapat alternatif tindakan yang terbaik guna merealisasikan terobosan-terobosan tersebut. Rapat-rapat penting yang melibatkan personel puncak di berbagai daerah menjadi lebih mudah dan efektif dilakukan. Informasi yang akan didiskusikan di e-mail terlebih dahulu untuk dipelajari, sehingga pada saat meeting dilaksanakan (tanpa orang-orang tersebut harus secara fisik hadir di satu tempat), diskusi bisa lebih difokuskan pada analisis alternatif strategi yang disampaikan. Menurut Bill Gates (Business @ the Speed of Thought), di perusahaan otomotif, Ford, Jacques Nasser, President Direktur bidang operasional, memanfaatkan kekuatan informasi untuk membina hubungan dengan karyawan. Setiap hari Jumat, Nasser mengirim email ke 89.000 karyawan di seluruh dunia untuk memberikan ide-ide, informasi tentang perkembangan terkini di industri otomotif, maupun di perusahaan. Ia juga membaca masukan dari karyawan, distributor dan pelanggan untuk perbaikan produk dan kualitas layanan.


Mengubah Pelanggan Musiman Menjadi Pelanggan Loyal
Agar pelanggan menjadi loyal, perusahaan perlu mengenal dengan baik, dan perlu dikenal dengan baik juga oleh target pasar mereka. Caranya adalah dengan memanfaatkan informasi yang tepat untuk membina hubungan dua arah yang harmonis dengan target pasar. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah mendekatkan diri dengan pelanggan dengan memberi layanan secara individu kepada mereka. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet untuk mengunjungi pelanggan satu per satu di tempat mereka masing-masing. Melalui teknologi ini, perusahaan bisa memperkenalkan berbagai produk, layanan baru yang ditawarkan perusahaan bagi pelangan, serta berbagai solusi yang diberikan perusahaan untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi pelanggan.
Teknologi internet dengan knowledge management-nya pun bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan masukan berharga (melalui keluhan, usulan, dan pertanyaan yang disampaikan pelanggan) untuk memperbaiki kualitas produk dan layanan bagi pelanggan, serta menciptakan produk dan layanan baru sesuai dengan perubahan selera dan kebutuhan pelanggan yang bisa diakses dari setiap transaksi yang tercatat. Dengan demikian, baik pelanggan maupun perusahaan bisa saling mengenal dengan baik karakter masing-masing. Karena sudah saling kenal, dengan hubungan yang baik, maka loyalitas pun akan lebih mudah tumbuh.
Dell Computers, perusahaan yang memproduksi komputer dengan mengandalkan keterlibatan pelanggan dalam menentukan sendiri fitur dari komputer yang akan dibeli (bukan fitur yang sudah distandarkan dari pabrik), serta Amazon.com, yang juga mengandalkan keterlibatan pelanggan dengan konsep ”swalayan” (pelanggan bisa memilih sendiri buku yang akan dibeli, dengan harga yang paling sesuai dengan kantong masing-masing), merupakan contoh yang tepat untuk menggambarkan pemanfaatkan kekuatan informasi yang ditunjang dengan teknologi yang tepat untuk memenangkan persaingan. Kedua perusahaan ini tampil sebagai pemenang karena mereka mampu menggunakan informasi untuk memenangkan pelanggan dengan cara yang mengubah paradigmanya dari persaingan dalam produk menjadi persaingan dalam pemanfaatan informasi yang tepat untuk memenangkan persaingan di pasar.
Berbagai bank di Indonesia juga sudah mulai memanfaatkan kekuatan informasi ini, misalnya melalui internet banking, di mana pelanggan diberi kepercayaan dan kemudahan untuk mendapatkan akses terhadap berbagai informasi yang mereka perlukan serta melakukan sendiri transaksi perbankan mereka dengan memanfaatkan internet, misalnya: transfer ke rekening lain, pembayaran berbagai tagihan. Transaksi yang dilakukan pelanggan ini akan tercatat dalam sistem dan informasi yang dihasilkan (antara lain: berapa banyak yang mengakses fasilitas ini, transaksi mana yang paling banyak diminati, masalah apa yang sering menjadi keluhan pelanggan) akan tercatat sehingga mudah diakses oleh para pengambil keputusan untuk meningkatkan kualitas keputusan mereka, serta mengantisipasi perubahan minat dan kebutuhan pelanggan.
Sudah siapkah Anda memanfaatkan kekuatan informasi untuk melaju di era yang penuh perubahan dan persaingan yang ketat? Di mana pun posisi Anda saat ini, bertindaklah cerdas dan bijak untuk memanfaatkan informasi yang tepat: mengubah kabar buruk menjadi kabar baik, mengubah informasi pasif menjadi aktif (melalui information sharing), dan meningkatkan kualitas hubungan dengan seluruh pendukung usaha Anda (karyawan, mitra bisnis, dan pelanggan). Selamat memanfaatkan informasi!




Strategi to Bottom Line Value Chain


1. Arahan Strategi Bisnis (Business Strategic Intentions)
Arahan strategi bisnis perusahaan beserta tujuan, ukuran, dan bobotnya masing masing. Semuanya akan digunakan dalam lima praktek New Information Economics.
2. Penilaian Portfolio (assessed Portfolios)
Portfolio berisi aplikasi, infrastruktur, layanan, dan manajemen, yang dinilai ebrdasarkan kesesuaian, tingkat layanan, kualitas dan intesitas penggunaanya. Portfolio ini akan digunakan dalam perencaaan dan pengembangan kebutuhan TI strategis melalui proyek-proyek
3. Agenda Strategi TI untuk Penggunaan TI ( Strategi IT Agenda for User of IT)
Hasil dari perencanaan TI Strategis yang menjelaskan apa yang akan dilakukan unit binis dan unit TI untuk memenuhi arahan strategis. Digunakan untuk mengarahkan kebutuhkan TI strategis dan proyek proyek, juga menentukan pengaruh bottom-line yang diharapkan dari pengeluaran TI
4. Rencana Strategi TI (Strategic IT Plan)
Hasil dari perencanaan strategi TI yang menentukan apa yang harus dilakukan unit TI untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam agenda TI strategis. Digunakan sebagai kerangka kerja strategis untuk anggaran lights-on TI dan proyek yang berkaitan dengan teknologi yang dibutuhkan untuk mendukung proyek bisnis.
5. Kebutuhan Strategi TI (IT Strategic Requiremnts)
Penyataan dan inisiatif yang diprioritaskan, yang akan memenuhi agenda TI strategis dan arahan strategi bisnis. Dapat berupa Portfolio inisiatif strategis yang potensial dalam kurun waktu 3-5 tahun.
6. Proyek (Projects)
Kandidat-kandidat yang akan diprioritaskan dalam rencana atau anggaran proyek tahunan. Isinya adalah Proyek Nyata yang dapat direalisasikan.
7. Rencana Proyek Tahunan ( Annual Project Plan)
Serangkaian proyek tahunan yang diharapkan akan diselesaikan pada tahun tersebut. Pada bisnis tertentu yang dinamis, rencana tersebut dapat ebrubah lebih sering dalam setahun. Isi dari rencana ini adlaah portfolio dari proyek yang dijadwalkan, dengan sumber daya yan diberikan, diproritaskan sesuai arahan strategi bisnis.
8. Rencana Bisnis Tahunan ( Annual Bussiness Plan)
Serangkaian rencana taktikal dan operasional untuk unit bisnis. Hal ini merupakan dasar pembuatan rencana proyek tahunan dan mendefinisikan hal hal yang diperlukan unit bisnis terkait dengan penggunaan TI.
9. Rencana TI Tahunan (annual IT Plan)
Kumpulkan rencana taktis dan operasional Tahunan untuk Bagian TI. Hal ini merupakan dasar pembuatan anggaran lights – on untuk mendukung unit bisnis.
10. Modal dan anggaran Tahunan Proyek (Annual And Capital Project Budget )
Sekumpulan anggaran investasi dan proyek untuk satu tahun. Didasarkan pada tingkat kemampuan yang dapat diberikan bagi unit bisnis
11. Anggaran Light – on TI Tahunan (annual Lights On budget)
Anggaran tahunan untuk aktifitas yang berjalan dibagian TI. Menyediakan layanan dan dukungan secara keseluruhan dan yang tidak dikhusukan dalam anggaran proyek, bersama dengan anggaran proyek, dapat member gambaran seluruh pengeluaran TI.
12. Mentrik pengukuran Kinerja (Performance Measurement Metric)
Serangkaian Pengukuran untuk TI dan penggunaan TI adlam Bisnis
1.3. Portofolio Management
Portfolio menurut Benson adalah kumpulan dari sumber daya. Portfolio Manajemen yang diterapkan pada praktek NIE merupakan suatu alat yang ebrguna untuk perencanaa dan pengambukan keputusan mengenai investasi dan sumber daya TI. Praktek NIE menggunakan portfolio untuk mengambil dan mengelola informasi mengenai aplikasi, infrastruktur, layanan dan aktifitas manajemen.
Portfolio digunakan untuk menggambarkan keseluruhan sumebr daya TI. Sumber daya TI dibagi menjadi dua, yaitu investasi baru dan yang sedang berjalan (Lights on).
a. Portfolio Lights- on
Portfolio untuk biaya light-on dibagi menjadi empat, yaitu aplikasi, infrastruktur, service dan manajemen. Aplikasi adalah aplikasi yang digunakan untuk menunjang bisnis perusahaan. Infrastruktur adalah semua infrastruktur yang dibutuhkan unhtuk menunjang aplikasi dan services. Services adalah hal hal yang berhubungan dengan pelayanan terhadap penggunaan aplikasi misalnya helpdesk, dan maintenance. Manajemen emrupakan aktivitas- aktivitas seperti training user dan training eksternal.
Dengan Mengkategorikan sumber daya TI lights0on, akan memudahkan manajemen untuk memahami dan menganalisa pengeluaran TI saat ini dan investasi TI dimasa mendatang.
b. Portfolio Proyek
Portfolio proyek untuk biaya investasi baru yang terdiri dari portfolio strategic, factory, mandated, dan future strategic. Tujuan dari pengelompokkan investasi baru adalah untuk mengklasifikasikan investasi TI dalam manajemen, sehingga memudahkan manajemen untuk memahami investasi itu sendiri dan memungkinkan manajemen untuk menyeimbangkan investasi yang dibuat.

Mengapa Perusahaan harus menggunakan Metode NIE ?
Pertanyaan utama kita menjawab bagi perusahaan dalam menerapkan NIE adalah, "Apa yang diperlukan untuk menghasilkan laba yang lebih tinggi dan lebih efektif dalam mengelola biaya TI?" Jawabannya: kita perlu proses perencanaan yang efektif, sumber daya sesuai keputusan, dan dapat dianggarkan dan direncanakan. Kita membutuhkan orang – orang untuk bekerja sama secara konsisten. Strategi-to Bottom-Line Rantai Nilai (value Chain) mengikat semua elemen ini bersama-sama.

Tetapi perusahaan sudah melakukan hal ini, manajer mungkin berkata. Mereka bekerja untuk memperbaiki garis dasar kinerja perusahaan mereka. Dari tahun ke tahun, mereka menetapkan anggaran operasi terus-menerus, dan berinvestasi dalam proyek-proyek atau inisiatif untuk mengubah atau menambahkan ke bisnis. Manajer kemudian berharap bahwa anggaran baru akan mendukung garis dasar yang lebih baik kinerjanya dari tahun anggaran sebelumnya, dan bahwa investasi dalam proyek-proyek atau inisiatif akan menghasilkan laba lebih baik.
Masalah praktis adalah bahwa sebagian besar perusahaan melakukan perencanaan, prioritas, alokasi sumber daya, anggaran, dan pengukuran kinerja dalam silo atau stovepipes. Kita maksud ini dalam dua cara. Pertama, dalam proses manajemen, perencanaan bisnis, Perencanaan IT, prioritas, anggaran, dan terhubung dengan pengukuran kinerja yang buruk. Proses manajemen ini beroperasi, tetapi tidak konsisten atau dari informasi dasar yang umum, dan sudah dilepaskan. Kedua, banyak perusahaan yang terorganisir dalam silo atau stovepipes, dan berbagai kegiatan manajemen tidak mengambil perspektif suatu perusahaan juga tidak mengkoordinasikan melintasi penghalang antara silo atau stovepipes.
Kebanyakan perusahaan dan organisasi memiliki kumpulan proses manajemen di IT. Menimbang bahwa telah lebih dari tiga puluh tahun sejak pertama masalah ini menjadi jelas, harus ada lebih dari proses manajemen sederhana. Kita sering menemukan:

* Rencana bisnis tidak bisa menyetir rencana TI
* Rencana IT fokus pada teknologi, bukan langsung menangani strategi bisnis
* Bisnis manajer tidak melihat TI sebagai pendukung strategi mereka
* Proyek-proyek TI tidak mendukung strategi bisnis. TI belanja pemeliharaan infrastruktur dan aplikasi tidak mendukung strategi
* Anggaran perusahaan tidak mencerminkan hasil perencanaan TI
* Rencana IT yang mengambil keputusan sendiri yang tidak memandu keputusan manajemen, proyek, atau anggaran perusahaan.
* Praktek pemerintahan IT tidak langsung dari perspektif bisnis IT

Ini adalah karakteristik perusahaan yang terputus. pada dasarnya, berbeda pendapat diantara manajer bisnis dan IT tentang memainkan peran TI dalam bisnis, nilai bahwa IT dapat membawa effek, dan praktek-praktek manajemen yang diperlukan untuk secara efektif membawa TI untuk menanggung pada strategi bisnis. Ini hasil dari pandangan yang berbeda, gagal untuk merencanakan, sejajarkan, memprioritaskan, berinovasi, dan mengukur kinerja untuk IT, secara konsisten, dari strategi bisnis perspektif. Kegagalan hasil dari budaya manajemen dalam bisnis dan TI yang tidak kompatibel dengan mengambil perspektif dalam mengelola bisnis IT.


Strategi Investasi
Menurut Bensot et al, berdasarkan nilai penyelarasan dan kualitasnya, strategi investasi portfolio dibedakan menjadi :
- Strategi Investasi berdasarkan hubungan alignment / quality
Menurut Benson et al , ada lima strategi investasi mengenai aplikasi yang dikategorikan dalam beberapa alligment/quality. Dengan menilai kombinasi alignment dan quality unutk aplikasi, manajemen dapat membuat keputusan investasi berdasarkan dampak bottom- line pada bisnis, dimana biaya lights-on seharusnya dinaikan, pengurangan seharusnya dikurangi, dan investasi apa yang mempunyai dampak terbesar dalam binis.

- Strategi investasi berdasarkan hubungan dependency / quality
Menurut benson et al, pertimbangan aplikasi portfolio lighs – on untuk pelayanan keuangan perusahaan, melalui latihan penilaian penyelarasan , menilai aplikasi tersebut menurut dependency dan quality

1 komentar: